Wednesday, December 7, 2011

Perkembangan Bayi 5 Bulan

Bulan Ke-5
Pada tahap ini biasanya bayi akan bereksperimen untuk membuat berbagai suara dengan menggunakan lidah dan bibir mungilnya. Dia sedang mempelajari suara-suara apa saja yang bisa dibuatnya dan ini sebenarnya merupakan awal dari kemampuan berbahasa. Jangan bosan ya kalau si kecil selau mengulang-ngulang suara atau bunyi yang sama…
Untuk sebagian besar bayi, pada masa ini pula mereka pertama kali mengeluarkan suara ketika tertawa! Cobalah memberikan tanggapan setiap kali bayi Anda tertawa atau bersuara dengan mulutnya. Dengan begini dia akan bersemangat untuk terus berusaha berkomunikasi dengan Anda. Bahkan jangan kaget kalau ternyata si kecil bisa mengeluarkan suara atau bunyi yang berbeda untuk memberitahu Anda bahwa dia lapar, lelah, atau sekedar ingin bermain.
Berkaitan dengan perkembangan fisiknya, banyak bayi pada tahap ini yang sangat menyukai untuk ditegakkan dalam posisi duduk. Untuk pertama kalinya, kemungkinan besar dia akan duduk dengan condong ke depan dan bertopang pada tangannya. Punggungnya pun akan terlihat melengkung. Untuk mengatasinya, Anda bisa menyandarkannya ke bantal, atau ke tubuh Anda. Jika Anda membiasakannya dalam posisi duduk, si kecil akan bertambah kuat dan stabil setiap harinya.
Pada tahap ini, Anda juga bisa mengenalkan gelas bermoncong (sippy cup) kepada bayi Anda. Pilihkan gelas yang memiliki 2 pegangan, untuk memudahkannya minum. Pada awalnya, tentu saja akan lebih banyak air minum yang tumpah daripada yang masuk ke mulutnya, tapi tidak mengapa… ini kan sebuah proses. Dia juga mungkin akan senang membanting dan memukul-mukulkan gelasnya ke lantai atau meja, karena menyukai bunyi yang ditimbulkannya.
Apakah Bayi Anda Sudah Siap Diberi MPASI?
Anjuran untuk memberikan MPASI (Makanan Pendamping ASI) adalah setelah bayi Anda melewati usia 6 bulan. Bahkan menurut DSA, sebenarnya gizi bayi akan tercukupi dengan ASI hingga ia berusia 9 bulan.
Namun memang sebagian bayi pada usia 5-6 bulan ada sudah mulai “penasaran” melihat apa yang dimakan oleh orang tuanya. Lalu, kapan sih sebenarnya bayi Anda SIAP menerima MPASI? Berikut antara lain tanda-tandanya:
  1. Sudah mulai tertarik melihat makanan. Jika dia sudah mulai memperhatikan makanan yang ada di piring Anda, bahkan mencoba untuk meraihnya dan memasukkannya ke mulutnya, nah… ini berarti dia sudah mulai tertarik dengan makanan…
  2. Bayi Anda sudah bisa menegakkan kepalanya dengan baik. Kalau belum bisa, sebaiknya Anda menunda memberikan MPASI kepadanya
  3. Jika bayi Anda sudah bisa memasukkan makanan dengan lidahnya ke bagian belakang mulutnya, berarti ia sudah siap
  4. Bibir bagian bawah bayi Anda juga sudah harus bisa “mengambil” makanan yang ada di sendok
  5. Usus bayi Anda sudah harus bisa mencerna makanan yang masuk dengan baik
Jika setiap kali Anda mencoba menyuapkan makanan kepada si kecil dan lidahnya terus mendorong makanan tersebut keluar, berarti dia belum siap diberi MPASI. Kalau begitu, jangan dipaksa…
Makanan Pertama
Jika bayi Anda sudah siap diberi MPASI, apa yang sebaiknya Anda berikan pertama kali?
Anda bisa mencoba:
- Sereal yang dicampur dengan ASI atau susu formula
- Pure pisang
- Pure kentang
- Pure apel
- Pure wortel
Perhatikan reaksinya setelah pemberian MPASI. Jika tidak ada gangguan pencernaan atau tanda-tanda alergi, maka menunya bisa Anda teruskan…

Perkembangan Bayi 0-4 Bulan

Untuk mengetahui apakah bayi Anda terlahir dalam keadaan sehat, Anda bisa membacanya di “Kelahiran Bayi Sehat“. Selanjutnya, berikut perkembangan bayi normal sejak usia 0-4 bulan…
Bulan ke-1
Jangan panik kalau bagian punggung atau pantat si kecil ada kulit yang biru seperti lebam, atau keabu-abuan. Bercak ini biasanya hilang setelah usianya melewati 1 tahun.
Jangan panik juga jika bentuk kepala bayi Anda kurang simetris, karena ia baru saja melewati jalan yang sempit, yaitu pinggul sang ibu. Matanya mungkin akan tampak sedikit membengkak, hidungnya masih sangat pesek dan kupingnya terlihat agak aneh. Dia akan terus “memperbaiki” penampilannya kok…
Bahkan pada sebagian bayi, Anda bisa melihat bagian lunak di bagian atas kepalanya berdenyut. Ini masih termasuk normal.
Pada beberapa hari pertama, mata si kecil biasanya akan terus menutup. Setelah itu matanya akan mampu terus terbuka untuk waktu yang lebih lama. Ia akan bisa melihat wajah Anda pada jarak sekitar 20 cm.
Pada tahap ini bayi bisa menggerakkan dan memutar kepalanya untuk mencari susu ibunya, bisa meregangkan tangannya, serta mengenggam jari Anda dengan kepalan tangannya.
Bulan ke-2
Pada tahap ini gerakan tubuhnya akan semakin membaik. Ia bisa menggapai benda-benda yang menarik perhatiannya, bisa memegang benda kecil dengan gengamannya walapaun hanya sebentar, bahkan ia sudah bisa menepuk-nepuk benda yang disenanginya.
Cobalah tersenyum kepadanya… jangan kaget kalau ia tersenyum balik kepada Anda. Coba pula membuat berbagai bunyi di dekatnya tanpa membuatnya terkejut. Sebagian bayi akan mendengarkan bunyi tersebut dengan seksama, sementara sebagian lainnya mungkin malah akan menangis.
Pada akhir tahap ini, sebagian bayi sudah mulai bisa mengangkat kepalanya dan mencoba melihat ke sekeliling ruangan.
Jika bayi Anda senang, maka ia akan membuat berbagai respon, seperti memandang wajah Anda, mencoba meraih Anda dengan tangannya, tersenyum dan mengoceh.
Sebaliknya, jika ia sedang kesal, maka respon yang dibuatnya antara lain memalingkan wajahnya dari Anda, menangis, meronta, serta bernafas dengan cepat.
Si kecil juga sudah mulai suka bereksplorasi menggunakan mulutnya dengan menghisap apa saja yang bisa dan nyaman untuk dihisap. Ia mulai banyak bereksperimen dengan suaranya, serta jarak pandangnya pun bertambah hingga beberapa meter ke depan.
Bulan ke-3
Si kecil sudah semakin kuat mengangkat kepalanya jika Anda baringkan ia dalam posisi tengkurap. Bahkan tidak jarang yang sudah bisa mengangkat badannya sedikit pada posisi ini.
Ia pun semakin mahir menggunakan tangannya. Ia akan senang menyentuh, memegang, serta memukul-mukul dengan kedua tangannya. Ia juga akan sangat menyukai melihat bayangannya sendiri di cermin.
Pada tahap ini, bayi akan mulai mengenali wajah orang dekatnya dan berbagai benda yang akrab dengannya.
Bulan ke-4
Bayi Anda akan mengamati berbagai ekspresi wajah Anda dan menirunya. Sebagian bayi ada yang sudah bisa berguling ke posisi tengkurap sendiri pada tahap ini. Namun akan lebih mudah baginya untuk berguling dari posisi tengkurap ke posisi terlentang.
Sebagian bayi ada yang sudah mulai muncul giginya pada tahap ini, walaupun ini sangat dipengaruhi oleh faktor keturunan.
Demikianlah garis besar perkembangan bayi Anda sejak usia 0-4 bulan. Yang perlu Anda ingat adalah bahwa setiap  bayi memiliki tahapan perkembangan yang unik. Jika bayi Anda agak lamban perkembangannya, jangan langsung panik… kebanyakan masih berada dalam batasan kewajaran.

Bayi Sembelit: Susah Buang Air Besar Pada Bayi

Pola buang air besar pada bayi memang berubah-ubah. Nah bagaimana Anda bisa tahu bahwa pola buang air besar pada bayi Anda masih tergolong normal?
Pola Buang Air Besar Bayi Pada Umumnya
Untuk bayi yang baru lahir, normalnya ia akan buang air besar hingga sebanyak 4 kali setiap hari. Ini akan berlangsung sampai ia berusia 7 hari. Untuk anak berusia 2 tahun, termasuk normal jika ia dapat buang air besar (BAB) 1-2 kali tiap harinya. Anak usia 4 tahun sudah sama pola BAB-nya dengan orang dewasa – 1 kali setiap hari.
Nah, karena tidak setiap anak memiliki pola yang persis sama, maka umumnya seorang bayi atau anak akan dianggap mengalami sembelit, jika ia tidak BAB hingga 2 minggu atau lebih.
Oleh karena itu, Anda tidak perlu terlalu khawatir jika melihat bayi Anda sepertinya berjuang keras, bahkan terkadang sampai memerah ketika sedang BAB, padahal terkadang fesesnya encer dan tidak keras. Dia kan masih belajar! Anda juga harus ingat… bayi Anda melakukan BAB sambil berbaring lho, tidak seperti orang dewasa… Jadi, reaksi-reaksi seperti ini masih tergolong normal.
Kapan Situasinya Menjadi Gawat?
Jika Anda mendapati bayi Anda mengalami kondisi seperti berikut ini, maka segeralah periksakan ke dokter:
  1. Feses/kotoran yang keras
  2. Demam
  3. Terdapat darah pada kotorannya
  4. Berat badannya sulit naik
  5. Gagal BAB untuk pertama kalinya dalam 24 jam setelah kelahiran
Bayi dalam Periode ASI Eksklusif
Jika bayi Anda masih dalam periode ASI eksklusif -alias belum memperoleh asupan selain ASI- maka masih tergolong normal jika ia tidak BAB hingga 1 minggu. Bahkan terkadang setelah 1 minggu pun fesesnya sama sekali tidak keras.
Hal ini disebabkan oleh ASI yang masih sangat mudah dicerna oleh tubuh bayi Anda dan ini juga berarti sebagian besar ASI dapat diserap dengan baik oleh tubuhnya.

Antibiotik

Tahukah Anda bahwa pilek, flu, sebagian besar radang tenggorokan dan bronchitis disebabkan oleh virus? Dan tahukah juga Anda bahwa antibiotik tidak membantu melawan virus?
Ya, benar lho. Malahan, meminum antibiotik ketika Anda atau anak Anda terserang virus bisa lebih banyak dampak buruknya daripada baiknya. Meminum antibiotik ketika anak Anda tidak memerlukannya dapat meningkatkan resiko terkena infeksi di masa yang akan datang yang mana infeksi ini justru tidak mempan dilawan dengan antibiotik.
Baiklah, untuk lebih memahami pemakaian antibiotik yang tepat, sepertinya ada beberapa hal mendasar yang perlu Anda ketahui…

Pertanyaan Seputar Bakteri, Virus dan Antibiotik

T: Apa itu bakteri dan virus?
J: Bakteri adalah organisme bersel tunggal yang biasa ditemui dimana-mana, baik di dalam tubuh maupun di luar tubuh kita, kecuali dalam cairan darah dan cairan tulang belakang. Banyak bakteri yang tidak berbahaya. Bahkan, sebagian bakteri menguntungkan bagi kita. Namun begitu, bakteri penyebab penyakit bisa juga memicu timbulnya penyakit seperti penyakit tenggorokan yang disebabkan oleh bakteri streptokokus dan beberapa jenis infeksi telinga. Adapun virus, ukurannya lebih kecil daripada bakteri. Virus tidak bisa bertahan hidup di luar sel tubuh kita. Dia menyebabkan penyakit dengan cara menyerang sel-sel yang sehat dan bereproduksi.
T: Apa saja jenis infeksi yang disebabkan oleh virus dan tidak boleh diobati dengan antibiotik?
J: Infeksi yang disebabkan oleh virus yang tidak boleh diobati dengan antibiotik termasuk:
  1. Pilek
  2. Flu
  3. Sebagian besar jenis batuk dan bronkhitis
  4. Radang tenggorokan (kecuali untuk radang tenggorokan yang disebabkan bakteri strepkokus)
  5. Sebagian infeksi telinga
T: Apa itu antibiotik?
J: Antibiotik, juga dikenal sebagai antimicrobial drugs (obat antikuman) yang melawan infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Pada tahun 1927, Alexander Fleming menemukan antibiotik yang pertama, yaitu penisilin. Setelah digunakan dalam dunia medis sejak tahun 1940-an, antibiotik terbukti membantu mengurangi serangan berbagai penyakit.

Pertanyaan Seputar Resistensi Antibiotik

T: Apa itu resistensi antibiotik?
J: Resistensi antibiotik (antibiotic resistency) merupakan kemampuan bakteri atau kuman lainnya untuk melakukan perlawanan terhadap pengaruh antibiotik. Seringkali masyrakat kita menyebutnya dengan ‘kebal terhadap antibiotik’. Ini terjadi ketika bakteri berubah sedemikian rupa sehingga mengurangi atau bahkan menghilangkan sama sekali efektifitas obat-obatan yang dirancang untuk mengobati atau mencegah terjadinya infeksi. Bakteri tersebut mampu bertahan hidup dan terus berkembang, sehingga menjadi lebih berbahaya.
T: Kenapa saya harus memahami masalah resistensi antibiotik?
J: Resitensi antibiotik saat ini sudah menjadi salah satu masalah besar dalam dunia kesehatan di seluruh dunia. Hampir semua jenis bakteri telah menjadi lebih kuat dan semakin tidak merespon terhadap perawatan antibiotik ketika sangat diperlukan. Bakteri yang ‘kebal’ ini bisa menyebar dengan cepat ke anggota keluarga yang lain, teman sekolah, teman kerja – sehingga mengancam orang banyak dengan rantaian penyakit menular baru yang akan lebih sulit untuk diobati dan lebih mahal juga tentunya.
Resitensi antibiotik dapat menyebabkan bahaya serius bagi anak-anak dan orang dewasa yang terkena infeksi biasa yang dulunya mudah diobati dengan antibiotik. Kuman dapat membentuk perlawanan terhadap obat-obatan tertentu. Nah, kesalahpahaman yang umum terjadi adalah banyak orang mengira bahwa tubuh seseoranglah yang menjadi ‘kebal’ terhadap obat-obatan tertentu. Padahal, yang ‘kebal’ itu sebenarnya kumannya, bukan orangnya.
Selanjutnya, ketika kuman menjadi ‘kebal’ terhadap berbagai obat, akan menjadi sangat sulit untuk mengobati infeksi yang disebabkannya. Lebih lanjut lagi, seseorang yang terkena infeksi dan infeksi tersebut sudah ‘kebal’ terhadap antibiotik, dapat menularkannya ke orang lain. Dengan begini, sebuah penyakit yang sukar diatasi akan tersebar dari satu orang ke orang lain.
T: Mengapa bakteri menjadi ‘kebal’ terhadap antibiotik?
J: Sebenarnya penggunaan antibiotiklah yang memancing berkembangnya bakteri yang ‘kebal’ terhadap antibiotik. Setiap kali seseorang meminum antibiotik, bakteri yang sensitif akan terbunuh, namun kuman yang ‘bandel’ akan tetap tersisa dan berkembang dengan pesat.
Pemakaian antibiotik yang terlalu sering dan tidak pada tempatnya merupakan sebab utama berkembangnya bakteri ‘kebal’ ini.
Walaupun antibiotik dianjurkan untuk mengobati infeksi bakteri, ia tidak efektif dalam melawan infeksi virus seperti pilek, sebagaian besar radang tenggorokan dan flu. Oleh sebab itulah diperlukan pemakaian antibiotik yang bijaksana.

Ingat, antibiotik membunuh bakteri, BUKAN virus.

T: Bagaimana proses bakteri menjadi ‘kebal’ terhadap antibiotik?
J: Sebenarnya ada beberapa cara yang ditempuh si bakteri. Sebagian bakteri akan membangun kemampuan untuk menetralisir kekuatan antibiotik sebelum menyerangnya. Sebagian bakteri lain memompa antibiotik keluar dengan sporadis. Sebagian lagi bisa mengalihkan daerah yang akan diserang oleh antibiotik, sehingga tidak mempengaruhi fungsi bakteri yang bersangkutan.
Antibiotik membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri yang mencurigakan. Terkadang, salah satu bakteri ada yang tetap bertahan karena memiliki kemampuan untuk menetralisir atau menyelamatkan diri dari antibiotik. Dari satu bakteri yang selamat ini, ia bisa berkembang dengan pesat sehingga dapat menggantikan jumlah bakteri yang terbunuh.
T: Bagaimana saya dapat mencegah terjadinya resitensi antibiotik?
J: Gunakanlah antibiotik HANYA pada kasus tertentu, dimana ia akan bermanfaat.
Berikut beberapa tips yang mungkin berguna:
  1. Tanyakan kepada dokter apakah antibiotik memang diperlukan untuk jenis penyakit yang diderita anak Anda dan tanyakan juga apa yang bisa Anda lakukan agar si kecil bisa segera sembuh.
  2. Jangan menggunakan antibiotik untuk infeksi virus seperti demam atau flu.
  3. Jangan menyimpan antibiotik yang tersisa dengan pertimbangan untuk digunakan nanti jika Anda memerlukannya lagi. Obat yang tersisa dari pengobatan apa saja yang anak Anda terima sebaiknya dibuang saja ketika masa pengobatannya sudah selesai.
  4. Jika memang diperlukan antibiotik, maka ikuti arahan dokter Anda. Jangan ada dosis yang terlewatkan. Sempurnakan konsumsi obat sesuai yang diresepkan, walaupun anak Anda sudah membaik kesehatannya. Jika pengobatan dengan antibiotik terhenti lebih awal, sebagian bakteri mungkin akan bertahan dan menyerang lagi.
  5. Jangan meminum antibiotik yang diresepkan untuk orang lain. Tidak setiap antibiotik cocok dengan penyakit anak Anda.
  6. Jika dokter Anda menyatakan bahwa penyakit si kecil bukan disebabkan oleh infeksi bakteri, tanyakan solusi untuk meredakan gejalanya. Jangan memaksanya untuk meresepkan antibiotik.

Berbagai Fakta Unik Seputar Antibiotik

  1. Anak-anak memiliki rasio tertinggi untuk pemakaian antibiotik.
  2. Tekanan dari orang tua ternyat sangat mempengaruhi pola pemakaian antibiotik di seluruh dunia. Sebuah studi menunjukkan, 62% dari konsultasi dokter akan berakhir dengan resep antibiotik ketika orang tua memaksa dan pada kasus dimana orang tua tidak mengaharapkan penggunaan antibiotik, angkanya menurun drastis menjadi 7%.
  3. Antibiotik terdapat dalam resep dari sekitar 68% pemeriksaan penyakit saluran pernapasan dan dari angka tersebut, menurut aturan, 80% diantaranya sebenarnya tidak perlu.
Satu catatan penting, walaupun artikel ini membahas penggunaan antibiotik untuk anak-anak, namun semua peringatan di atas juga berlaku untuk Anda lho…

Bayi Kurang Gizi, Daya Kognitif Berkurang

Anak-anak yang pada masa usia mulai nol hingga lima tahun harus mendapatkan nutrisi sesuai dengan kebutuhannya, karena kurangnya salah satu unsur saja akan membuat pertumbuhan mereka terganggu.
Salah satu unsur itu misalnya zat besi. Apabila anak-anak menerima asupan makanan dengan tingkat kandungan zat besi yang rendah maka berakibat terjadinya defisiensi pada otak (berkurangnya kemampuan kerja otak), walaupun mereka memperoleh penanganan medis sejak awal, demikian dilaporkan oleh para peneliti Amerika.
Hasil penelitian terhadap 185 remaja Costa Rica menunjukkan bahwa mereka yang pada masa usia balita mengalami kekurangan zat besi pada nutrisinya semasa lima tahun pertama dalam kehidupan mereka, tak pernah lulus tes daya ingat dan daya kemampuan belajar, dan semakin besar kekurangan zat besi pada nutrisi yang diperolehnya pada usia hingga lima tahun maka semakin buruk pula kondisinya bersamaan dengan bertambahnya umur mereka.
Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Pediatri dan Remaja memperlihatkan betapa pentingnya nutrisi pada usia awal sejak bayi hingga lima tahun, demikian para peneliti melaporkan.
"Apabila dampak langsung dan tak langsung dari kekurangan unsur zat besi yang mengakibatkan terganggunya atau tertundanya perkembangan dasar otak maka dapat terjadi efek 'bola salju' (semakin lama semakin parah)," kata Dr. Betsy Lozoff dari the University of Michigan di Ann Arbor, yang memimpin penelitian.
Lozoff dan rekan-rekannya yang didanai oleh Lembaga Kesehatan Negara (AS) mempelajari 185 anak sejak berusia satu tahun.
Anak-anak tersebut diperiksa pada kunjungan pertama mereka untuk mengetahui seberapa besar kekurangan zat besi yang mereka derita dan diberikan tes kognitif (kemampuan berpikir) secara berkala sesuai dengan usia mereka untuk mengetahui kemampuan mereka dalam hal belajar, berpikir dan mengingat.
Balita yang menerima nutrisi dengan kandungan unsur zat besi dengan tingkat yang rendah diberikan asupan makanan tambahan namun kadar besi tersebut tak dapat membuat kemampuan daya otak mereka ketingkat normal bahkan pada bayi-bayi yang didiagnosa anemia (kasus kekurangan zat besi yang sering terjadi)
Para peneliti kemudian membandingkan 53 bayi dengan defisiensi (kekurangan) zat besi kronis dengan 132 bayi-bayi normal.
Diantara anak-anak balita yang berasal dari keluarga dengan strata sosial menengah perbedaan kemampuan kognitifnya tidaklah tajam mulai dari masa bayi hingga mencapai usia remaja.
"Namun pada anak-anak balita dari keluarga dengan tingkat sosial rendah terlihat meningkatnya perbedaan ketidak-mampuan kognitif mereka seiring dengan pertambahan usia mulai dari angka 10 pada usia balita dan menjadi angka 25 pada usia 19 tahun, demikian dilaporkan peneliti dari Universitas Michigan tersebut.
Seperlima dari dua puluh lima persen anak di dunia menderita defisiensi zat besi dalam kasus anemia yaitu kondisi dimana kurangnya zat besi yang menimbulkan masalah dengan sel darah mereka.
Hasil penelitian yang kedua yang juga dimuat pada jurnal yang sama menemukan bahwa anak-anak yang minum susu formula dari botol setelah usia satu tahun cenderung untuk mengalami defisiensi zat besi dibandingkan dengan anak-anak yang juga minum susu formula dengan usia sama namun minum dari gelas.
Dr. Trenna Sutcliffe beserta rekan-rekannya dari the University of Toronto memantau dan mengetes sebanyak 150 anak-anak yang sehat dengan kisaran usia 12 hingga 38 bulan yang minum susu formula.
Mereka menemukan 37 persen anak-anak yang minum susu formula dari botol dan 18 persen yang minum susu sapi dari gelas, tingkat zat besi dalam nutrisi mereka sedikit agak rendah dari yang dibutuhkan.
"Botol susu tersebut agaknya menjadi alat yang menyebabkan konsumsi susu formula yang berlebihan sehingga anak-anak yang sudah kenyang akan asupan susu formula akan menolak untuk makan makanan lainnya yang mempunyai kandungan zat besi yang tinggi," demikian seperti dilaporkan para peneliti.

Tuesday, May 24, 2011

Bronchitis (Paru-paru Basah) & Bronchiolitis

Bronchitis akut – atau yang dikenal juga dengan Paru-paru Basah – merupakan gangguan kesehatan yang terjadi ketika saluran bronchial dalam paru-paru terendam dengan air. Saluran bronchial ini kemudian akan membengkak dan memproduksi lendir, yang menyebabkan timbulnya batuk-batuk.
Penyakit ini sering timbul setelah adanya infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), seperti pilek. Sebagian besar gejala bronchitis akut seperti sakit di dada, sesak napas, dll biasanya bertahan hingga 2 minggu, namun batuknya bisa terus bertahan hingga 8 minggu pada kasus tertentu.
bronchitis and bronchiolitisBronchitis kronis bisa berlangsung dalam jangka waktu yang panjang dan biasanya menyerang para perokok. Orang yang menderita bronchitis biasanya akan terus batuk berdahak selama 3 bulan tiap tahunnya, selama 2 tahun berturut-turut. Jika Anda atau keluarga Anda pernah didiagnosa dengan penyakit ini, maka sebaiknya Anda mengunjungi dokter spesialis untuk diperiksa lebih lanjut.
Jenis infeksi paru-paru lainnya yang harus diketahui oleh para prang tua adalah Bronchiolitis. Bayi bisa diserang penyakit bronchiolitis (infeksi yang disebabkan oleh virus) yang bisa menghalangi saluran pernapasannya sehingga perlu dirawat.

Penyebab Bronchitis

    1. Beberapa jenis virus, diantaranya: Respiratory Syncytial Virus (RSV), Adenovirus, Influenza dan Parainfluenza
    2. Bakteri, pada kasus yang jarang ditemui
    3. Polutan (bahan kimia yang terkandung dalam udara)

      Tanda-tanda dan Gejala Bronchitis

        1. Batuk berdahak (pada hari-hari pertama mungkin batuk kering)
        2. Rasa sakit di dada
        3. Rasa lelah
        4. Sakit kepala ringan
        5. Sakit-sakit pada badan
        6. Demam
        7. Mata berair
        8. Sakit tenggorokan

          Periksakan ke Dokter jika Anak Anda Memiliki:

            1. Panas tinggi
            2. Demam dan batuk dengan dahak yang sangat kental atau bahkan mengandung darah
            3. Masalah kronis pada jantung atau paru-parunya
            4. Sesak napas, atau napasnya pendek-pendek
            5. Gejala-gejala bronchitis di atas lebih dari 3 minggu
            6. Selalu terjangkit bronchitis/bronchiolitis
              Jika Anda memiliki bayi yang kurang dari 3 bulan dan terkenan demam, sangatlah bijaksana untuk memeriksakannya ke dokter.
              Nantinya dokter Andalah yang akan menentukan apakah si kecil terkena bronchitis akut, kronis, bronchiolitis, atau mungkin infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) lainnya. Setelah itulah perawatan yang tepat akan dapat ditentukan.

              Kapan Antibiotik Diperlukan?

              Untuk kasus bronchitis, antibiotik akan sangat jarang diperlukan, karena bronchitis akut dan bronchiolitis hampir selalu disebabkan oleh virus. Adapun bronchitis kronis memerlukan terapi yang lebih intensif daripada sekedar konsumsi antibiotik.
              Walaupun demikian, jika anak Anda didiagnosa dengan penyakit ISPA lainnya seperti Pneumonia atau Pertussis, mungkin dokter Anda akan merespkan antibiotik.
              Antibiotik tidak akan membantu untuk bronchitis yang disebabkan oleh virus atau polusi udara (seperti asap rokok). Ingat, meminum antibiotik ketika tidak diperlukan justru akan sangat berbahaya bagi kesehatan Anda dan keluarga.

              Bagaimana Mencegah Bronchitis Akut?

                1. Hindari merokok, terutama berbagi sebatang rokok dengan banyak orang
                2. Jaga higienitas tangan
                3. Imunisasi

                  Bronchiolitis

                  Bronchiolitis biasanya menyerang anak dibawah usia 2 tahun, terutama bayi berusia 3-6 bulan. Penyebab utamanya adalah Respiratory Syncytial Virus (RSV) dan terkadang bisa juga disebabkan oleh virus seperti Adenovirus, Influenza dan Parainfluenza.
                  Virus ini bisa berpindah dari satu orang ke orang lain, baik melalui kontak langsung dengan cairan hidung, maupun melalui udara yang terpolusi. Walaupun RSV hanya akan menimbulkan gangguan ringan pada orang dewasa, namun tidak demikian pada bayi lho!

                  Resiko terkena bronchiolitis akan meningkat jika terdapat faktor-faktor berikut pada bayi:

                    1. Sering berada di sekitar perokok
                    2. Usia bayi kurang dari 6 bulan
                    3. Hidup di lingkungan yang padat penduduk
                    4. Kurang konsumsi ASI
                    5. Lahir prematur

                      Gejala Bronchiolitis

                        1. Biasanya dimulai dengan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) ringan
                        2. Dalam 2-3 hari bisa semakin parah yang disertai batuk berdesis
                        3. Napas bayi tersengal-sengal
                        4. Bayi terlihat panik dan gelisah
                        5. Pada kasus yang parah, bayi akan membiru dan ini merupakan situasi yang gawat
                        6. Cuping hidung bayi akan terlihat membesar setiap kali menarik napas
                        7. Otot-otot antara tulang rusuk akan tertarik setiap kali menarik napas

                          Terapi yang Dapat Membantu

                            1. Menepuk-nepuk dada bayi
                            2. Konsumsi cairan yang cukup, selain ASI, untuk bayi diatas 6 bulan Anda bisa memberikan air jeruk hangat atau jus apel hangat
                            3. Menghisap uap air bisa membantu mencairkan dahak kental yang bisa menyebabkan bayi Anda tersedak. Anda bisa menggunakan alat semacam Humidifier untuk ini
                            4. Banyak beristirahat
                            5. Jangan biarkan orang merokok di dekat bayi Anda
                              Biasanya gejala ini akan berkurang dalam waktu 1 minggu dan kesulitan bernapas akan berkurang dalam waktu 3 hari. Angka kematian bayi akibat penyakit ini tidak sampai 1 %.

                              Kapan Anda Sebaiknya Menghubungi Tenaga Medis?

                              Hubungi tenaga medis jika bayi yang terkena bronchiolitis:
                                1. Menjadi lesu
                                2. Kulit, kuku, atau bibirnya membiru
                                3. Bernapas dengan napas yang sering dan pendek
                                4. Terkena pilek yang memburuk tiba-tiba
                                5. Kesulitan bernapas
                                6. Cuping hidung membesar dan otot rusuknya tertarik setiap bernapas
                                  Akhir kata, penyakit ini sebenarnya relatif mudah dicegah, selama Anda dan keluarga menjaga higienitas lingkungan tinggal Anda…

                                  Metode Belajar Membaca Glenn Doman

                                  Bingung mencari metode belajar membaca yang baik untuk anak Anda? Pernahkah Anda mendengar tentang metode Glenn Doman? Mari kita simak fakta berikut, semoga bermanfaat untuk Anda yang sedang bingung mencari program belajar membaca yang terbaik untuk buah hati Anda…

                                  Kapan Sebaiknya Anak Anda Belajar Membaca?

                                  Permasalahan seputar waktu yang tepat untuk mengajarkan anak membaca pernah menjadi perbincangan yang hangat. Ketika itu, sebagian berpendapat bahwa mengajarkan anak membaca terlalu dini bisa berakibat buruk untuk perkembangannya karena dianggap akan membebani. Mereka yang beranggapan seperti ini menyarankan agar anak belajar membaca setelah mereka berusia 6-7 tahun.
                                  Namun demikian, seiring dengan diadakannya berbagai penelitian dan studi ilmiah, ternyata si anak justru akan terbebani apabila mereka terlambat belajar membaca dan berbagai studi juga menunjukkan bahwa usia 6-7 tahun dapat digolongkan ke dalam kategori ‘terlambat’ tersebut.

                                  Keuntungan Belajar Membaca Sejak Usia Dini

                                  Bagaimana belajar membaca sebelum masuk Sekolah Dasar (SD) bisa mempengaruhi prestasi membaca anak di masa depannya? Dolores Durkin merupakan peneliti yang pertama kali mendalami masalah ini pada tahun 1958-1964 dan mengadakan berbagai studi untuk menelitinya. Apa kesimpulan yang dapat diambil dari studi selama 6 tahun ini?
                                  1. Anak yang bisa membaca sejak dini ternyata senantiasa bisa mengungguli kemampuan membaca anak yang terlambat, hingga ke tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP).
                                  2. Kemampuan membaca sejak dini ternyata tidak berhubungan dengan IQ anak, namun sangat berhubungan dengan suasana rumah dan keluarganya. Anak-anak yang bisa membaca sejak dini ternyata muncul dari keluarga yang memiliki perhatian dan usaha ekstra dalam membantu mereka belajar membaca.
                                  3. Kemampuan membaca sejak dini juga tidak berhubungan dengan kondisi sosial-ekonomi. Anak-anak yang bisa membaca sejak dini ternyata memiliki orang tua yang mau menyempatkan waktu untuk kegiatan membaca bersama anaknya, walaupun latar belakang sosial-ekonomi mereka berbeda-beda.
                                  Durkin juga mendapati bahwa anak-anak yang mulai belajar membaca sejak usia 3-4 tahun ternyata selalu mengungguli anak-anak lainnya yang mulai belajar membaca sejak usia 5-6 tahun. Mereka bahkan bisa terus unggul hingga rentang masa 8 tahun.

                                  Teori Glenn Doman

                                  Glenn Doman, pendiri Institutes for the Achievemnet of Human Potential (IAHP), mengatakan bahwabayi sangatlah jenius terhadap bahasa. Sebagai contoh, coba kita lihat… bagi setiap bayi yang lahir di Indonesia, bahasa Indonesia merupakan bahasa asing – tidak bedanya dengan dengan bahasa Inggris atau Rusia.
                                  Namun apa yang terjadi? Ternyata si bayi bisa mempelajari bahasanya! Bagaimana ia mempelajarinya? Anda bisa saja dengan bangganya mengatakan bahwa Anda yang yang telah mengajarinya, tapi kalau mau jujur, paling-paling Anda hanya mengajari ‘Mama’, ‘Papa’ dan sebagian kecil kata saja, ya kan? Lalu bagaimana dengan ribuan kosakata, berikut dengan cara pengucapannya yang benar yang diserap oleh si kecil – apakah Anda yang mengajarkannya secara khusus?
                                  Glenn Doman menyimpulkan, bahwa anak-anak mempelajari bahasanya melalui konteks, bukan dengan cara diajarkan satu per satu dari daftar koleksi kata berikut dengan artinya (ini persisi seperti yang diajarkan pada umumnya di sekolah-sekolah ketika mengajarkan bahasa asing ataupun ketika mengajarkan anak membaca).
                                  Oleh sebab itu, Doman menganjurkan agar ketika mengajarkan anak membaca, kita hendaknya mengolah bahasa dalam bentuk tulisan sebagaimana kita mengolah bahasa dalam bentuk pembicaraan. Artinya, kita sebaiknya membuat proses belajar membaca untuk bayi sesederhana mungkin. Dengan begini, anak kecil bisa belajar membaca secara alami dan tanpa ia sadari – sebagaimana ia belajar berbicara dengan bahasa ibunya.
                                  Untuk bisa memahami bahasa melalui telinga, diperlukan 3 persyaratan:
                                  1. Lantang
                                  2. Jelas
                                  3. Diulang-ulang
                                  Dan tanpa disadari, seorang ibu biasanya berbicara kepada bayinya dengan 3 elemen ini; lantang,jelas dan diulang-ulang.
                                  Alasan utama mengapa kebanyakan bayi tidak menyerap bahasanya melalui mata menuju ke otaknya sebagaimana bahasa tersebut diserap melalui telinga menuju otaknya, adalah karena ternyata untuk bisa membaca bahasa tersebut, diperlukan bahasa yang disajikan kepada penglihatannya dalam bentuk yang besar, jelas dan diulang-ulang. Dan inilah yang gagal diberikan oleh kebanyakan orang tua kepada bayinya – menyajikan kata-kata dalam bentuk besar, jelas dan diulang-ulang, sehingga anak-anak bisa belajar dengan sangat mudah.

                                  Metode Belajar Membaca Glenn Doman

                                  Metode belajar membaca Glenn Doman didasari fakta bahwa anak kecil belajar melalui permainan. Apabila kegiatan belajar yang mereka jalani menyenangkan, maka mereka akan menikmatinya, sehingga dapat belajar jauh lebih cepat.
                                  Untuk itu, Glenn Doman menganjurkan agar menggunakan flash card (kartu) untuk membantu si kecil belajar membaca. Prinsipnya adalah Anda menggunakan kartu-kartu yang berukuran besar yang bertuliskan kata-kata sederhana. Setiap kartu atau flash card tersebut memuat 1 kata yang ditulis dengan huruf kecil (bukan kapital) dengan ukuran besar dan warna yang jelas/mencolok.

                                  Belajar Membaca Metode Glenn DomanBerikutnya, cari waktu yang lapang dan menyenangkan untuk Anda dan buah hati Anda. Duduklah bersama dan tunjukkan flash cardtersebut kepadanya satu per satu sambil Anda bacakan dengan lantang dan jelas.
                                  Tertarik untuk memilikinya? Silahkan kunjungiGlenn Doman flash card.

                                  Bagaimana Cara Belajar Membaca Menggunakan Glenn Doman Flash Card?

                                  Ada beberapa hal penting yang perlu Anda ketahui tentang penggunaan kartu Glenn Doman:
                                  1. Flash card sebaiknya disusun dan dikelompokkan berdasarkan subyek yang sama
                                  2. Untuk flash card yang bergambar, gambarnya harus berukuran cukup besar dan jelas
                                  3. Flash card gambar hanya berisi 1 gambar untuk setiap kartu, tanpa latar belakang apapun
                                  4. Ketika Anda menunjukkan kartu tersebut kepada anak Anda, usahakan tidak terlalu lama.Cukup sekitar 1 detik
                                  5. Ketika anak Anda terlihat bosan, segera hentikan aktifitas belajar. Ingat, proses belajar jangan sampai dipaksakan dan jangan terlalu ingin cepat melihat hasil
                                  6. Adakan kegiatan ini hanya ketika anak Anda sedang baik perasaannya. Jangan sekali-kali mengadakannya ketika ia sedang lelah, sakit, atau rewel
                                  7. Pastikan juga Anda sedang dalam keadaan senang ketika mengajarkan si kecil membaca. Dengan begini, suasana belajar-mengajar menjadi menyenangkan
                                  8. Ketika anak Anda selesai mempelajari 1 set flash card, Anda bisa beralih ke set berikutnya sehingga ia selalu mempelajari sesuatu yang baru
                                  Jangan lupa, setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda. Setiap mereka memiliki kelebihan dan kelemahan yang berbeda-beda dalam mempelajari sesuatu yang baru. Oleh sebab itu, pastikan Anda bisa menyesuaikan cara pembelajaran untuk setiap anak. Selamat menerapkan metode belajar membaca Glenn Doman dan semoga berhasil!
                                  Tertarik untuk memilikinya? Silahkan kunjungi Glenn Doman flash card.

                                  Di mana Anda bisa memperoleh Glenn Doman flash card?

                                  Banyak orang tua yang bertanya bagaimana mereka bisa memperoleh kartu Glenn Doman. Sebenarnya Anda memiliki 2 pilihan; Anda bisa membeli kartu Glenn Doman yang orisinil, namun sepertinya sangat memberatkan. Kenapa demikian? Bayangkan saja, satu set kartu Glenn Doman tersebut harganya bisa lebih dari Rp. 1 juta!
                                  Alternatif kedua adalah membuat flash card sendiri. Namun cara kedua ini juga seringkali menjadi sebab tertundanya proses belajar membaca si kecil. Kami perhatikan, tidak semua orang tua memiliki waktu untuk membuat sendiri flash card dan seandainya pun ada yang memulai membuatflash card sendiri, biasanya hanya bertahan sampai 1 atau 2 set kata saja, sehingga proses belajar-mengajar pun akhirnya tidak tuntas.
                                  Alternatif terakhir, Anda bisa memperoleh flash card yang setara dengan Glenn Doman orisinil, namun dengan harga yang jauh lebih murah. Koleksinya pun saat ini semakin lengkap. Klik di sini untuk melihat koleksi Flash Card bayi tersebut.